Minggu, Februari 10, 2013

MAKALAH DAMPAK GLOBALISASI BAGI PENDIDIKAN DI INDONESIA


O
L
E
H
OKTAVIANA ELFRINDA RIRIN SERAN
UNIVERSITAS KRISTEN WACANA KUPANG

Makalah Ini Disususn Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Pendidikan

KATA PENGANTR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang telah melimpahkan rahmat dan kasih-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ‘’ Dampak Globalisasi bagi pendidikan di Indonesia’’. Makalah ini diharapkan mampu membantu  saya dalam memperdalam mata pelajaran kewarganegaraan dalam kegiatan belajar. Selain itu makalah ini diharapkan agar dapat menjadi bacaan para pembaca agar menjadi  warga negara yang baik dan bertanggung  jawab karena materi disajikan mengarah pada terbentuknya arah globalisasi yang berpengaruh terhadap kehidupan bernegara. Oleh karena itu, makalah ini diharapkan agar bangsa indonesia memiliki sikap yang kritis terhadap situasi dan kondisi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang selalu berubah.
Akhir kata, saya ucapkan terimakasi kepada para pembaca yang sudah berkenan membaca makalah ini dengan tulus ikhlas. Semoga makalah ini bermanfaat, khususnya bagai saya dan pembaca.



                                                                                                 

Kupang,  februari 2013


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidakmengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses darigagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lainyang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedomanbersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia (Edison A. Jamli, 2005). Prosesglobalisasi berlangsung melalui dua dimensi, yaitu dimensi ruang dan waktu.Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi,politik, ekonomi, dan terutama pada bidang pendidikan. Teknologi informasi dankomunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini,teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat dengan berbagai bentukdan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasitidak dapat dihindari kehadirannya, terutama dalam bidang pendidikan.Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negaratermasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positifdan negatif, pengaruh globalisasi meliputi segala aspek kehidupan terutama padamasalah pendidikan diIndonesia. Ada dua isu kritis yang perlu kita sikapisehubungan dengan perspektif globalisasi dalam kebijakan pendidikan di Indonesia yaitu: siapkah dunia pendidikan Indonesia menghadapi globalisasi?danbagaimanakah cara penyesuian pendidikan Indonesia di era globalisasi sekarangini?. Oleh sebab itu untuk melawan globalisasi terutama dalam pendidikan, kitaharus bisa menjaga eksistensi sekolah. Demikianlah, semoga kita dapatmengarungi derasnya gelombang globalisasi dan kita tidak tenggelam dalamgelombang itu.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian globalisasi?
2.      Bagaimana perkembangan globalisasi pada saat ini dan apa dampaknya bagi pendidikan di ndonesia?
3.      Seperti apa pendidikan di Indonesia saat ini?
4.      Bagaimana cara penyesuaian pendidikan Indonesia di era globalisasi sekarang ini?


1.3  Tujuan Penulis
1.      Bagi Penulis Disusun untuk memenuhi tugas yang diberikan dosen dalam mata kuliah Pengantar Pendidikan
2.      Bagi Pembaca Makalah ini dimaksudkan untuk membahas dampak globalisasi terhadap dunia pendidikan di Indonesia.




BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Globalisasi

Globalisasi telah menjadi sebuah kata yang memiliki makna tersendiri yang sering kali kit abaca atau dengar. Banyak pengguna istilah globalisasi memahaminya berbeda dengan makna yang sesunggunya. Realitas semacam ini bisa diterima mengingat tidak ada definisi yang tunggal terhadap globalisasi. Misalnya menurut R. Robertson (1992:8) merumuskan globalisasi sebagai “thecompression of the world and the intensification of consciousness of  world asa whole.", menurut P. Kotter (1995:42) mendeskripsikan globalisasi sebagai, "the product of manyforces, some of which are political (no major was since 1945), some of which aretechnological (faster and cheaper transportation and communication), and some of which are economic (mature firms seeking growth outside their nationalboundaries). Tetapi, dalam tulisan ini kita cenderung mengutip pendapat J.A. Scholte(2002:15-17) yang menyimpulkan bahwa setidaknya ada lima kategori pengertianglobalisasi yang umum ditemukan dalam literatur. Kelima kategori definisi tersebut berkaitan satu sama lain dan kadang kala saling tumpang-tindih, namun masing-masing mengandung unsur yang khas.
1.      Globalisasi sebagai internasionalisasi
Dengan pemahaman ini, globalisasi dipandang sekedar sebuah kata sifat(adjective) untuk menggambarkan hubungan antar-batas dari berbagai negara.la menggambarkan pertumbuhan dalam pertukaran dan interdependensiinternasional. Semakin besar volume perdagangan dan investasi modal, maka ekonomi antar-negara semakin terintegrasi menuju ekonomi global di mana`ekonomi nasional yang distingtif dilesap dan diartikulasikan kembali ke dalamsuatu sistem melalui proses dan kesepakatan internasional.
2.      Globalisasi sebagai liberalisasi
Dalam pengertian ini, “globalisasi” merujuk pada sebuah proses penghapusan hambatan-hambatan yang dibuat oleh pemerintah terhadap mobilitas antar Negara untuk menciptakan sebuah ekonomi dunia yang terbuka dan tanpa-batas. Mereka yang berpendapat pentingnya menghapus hambatan-hambatan perdagangan dankontrol modal biasanya berlindung di balik mantelglobalisasi.
3.      Globalisasi sebagai universalisasi
Dalam konsep ini, kata global digunakan dengan pemahaman bahwa proses mendunia dan globalisasi merupakan proses penyebaran berbagai objek dan pengalaman kepada semua orang ke seluruh penjuru dunia. Contoh klasik darikonsep ini adalah penyebaran teknologi komputer, televisi, internet, dll.
4.      Globalisasi sebagai westernisasi atau modernisasi (lebih dalam bentukyang Americanised)
Globalisasi dalam konteks ini dipahami sebagai sebuah dinamika, di manastruktur-struktur sosial modernitas (kapitalisme, rasionalisme, industrialisme,birokratisme, dsb.) disebarkan ke seluruh penjuru dunia, yang dalam prosesnya cenderung merusak budaya setempat yang telah mapan serta merampas hak self-determination rakyat setempat.
5.      Globalisasi sebagai penghapusan batas-batas teritorial (atau sebagai persebaransupra-teritorialitas). Globalisasi mendorong rekonfigurasi geografis, sehingga ruang-sosial tidak lagisemata dipetakan dengan kawasan teritorial, jarak teritorial, dan batas-batasteritorial. Dalam konteks ini, globalisasi juga dipahami sebagai sebuah proses(atau serangkaian proses) yang melahirkan sebuah transformasi dalam spatialorganisation dari hubungan sosial dan transaksi-ditinjau dari segi ekstensitas,intensitas, kecepatan dan dampaknya yang memutar mobilitas antar-benua atauantar-regional serta jaringan aktivitas. Globalisasi bisa dianggap sebagai penyebaran dan intensifikasi dari hubunganekonomi, sosial, dan kultural yang menembus sekat-sekat geografis ruang danwaktu. Dengan demikian, globalisasi hampir melingkupi semua hal yangberkaitan dengan ekonomi, politik, kemajuan teknologi, informasi, komunikasi,transportasi, dll.

2.2  Perkembangan Globalisasi dan Dampaknya bagi Pendidikan di Indonesia

Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh perkembangan globalisasi, di mana ilmu pengetahuan dan teknologiberkembang pesat. Era pasar bebas juga merupakan tantangan bagi duniapendidikan Indonesia, karena terbuka peluang lembaga pendidikan dan tenaga pendidik dari manca negara masuk ke Indonesia. Untuk menghadapi pasar global maka kebijakan pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun non-akademik, dan memperbaiki manajemen pendidikanagar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya bagimasyarakat untuk mendapatkan pendidikan. Ketidaksiapan bangsa kita dalam mencetak SDM yang berkualitas danbermoral yang dipersiapkan untuk terlibat dan berkiprah dalam kancahglobalisasi, menimbulkan dampak negatif yang tidak sedikit jumlahnya bagimasyarakat. Paling tidak, ada tiga dampak negatif yang akan terjadi dalam dunia pendidikan kita.
1.       Dunia pendidikan akan menjadi objek komoditas dankomersil seiring dengan kuatnya hembusan paham neoliberalisme yang melanda dunia. Paradigma dalam dunia komersial adalah usaha mencari pasar baru dan memperluas bentuk-bentuk usaha secara terus-menerus. Globalisasi mampu memaksa liberalisasi berbagai sektor yang dulunya non-komersial menjadi komoditas dalam pasar yang baru. Tidak heran apabila sekolah orang tua murid dengan sejumlah anggaran berlabel uang komite atau uang sumbangan pengembangan institusi meskipun pemerintah sudah menyediakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

2.       Mulai longgarnya kekuatan kontrol pendidikan oleh negara. Tuntutan untuk berkompetisi dan tekanan institusi global, seperti IMF dan World Bank, mau atau tidak, membuat dunia politik dan pembuat kebijakan harus berkompromi untuk melakukan perubahan. Lahirnya UUD 1945 yang telah diamandemenkan, UU Sisidiknas, dan PP 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) setidaknya telah membawa perubahan paradigma pendidikan dari corak sentralistis menjadi desentralistis.

3.       Globalisasi akan mendorong delokasi dan perubahan teknologi danorientasi pendidikan. Pemanfaatan teknologi baru, seperti computer dan internet,telah membawa perubahan yang sangat revolusioner dalam dunia pendidikan yangtradisional.
Pemanfaatan multimedia yang portable dan menarik sudah menjadi pemandangan yang biasa dalam praktik pembelajaran di dunia persekolahan kita. Di sinilah bahwa pendidikan menjadi agenda prioritas kebangsaan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi untuk diperbaiki seoptimal mungkin.

2.3  Pendidika di Indonesia saat ini

Dengan berdampak dari globalisasi, pendidikan saat ini sangat mempengaruhi.
1.      Keadaan buruk pendidikan di Indonesia
Paradigma Pendidikan Nasional yang Sekular-Materialistik Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini adalah sistem pendidikan yang sekular-materialstik. Hal ini dapat terlihat antara lain padaUU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang, dan jenispendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi : Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, kagamaan,dan khusus dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitupendidikan agama dan pendidikan umum. Sistem pendidikan dikotomis semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia yang sholeh yang berkepribadian sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi. Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan tampak pada pendidikan agama melalui madrasah, institusi agama, dan pesantren yang dikelola oleh Departemen Agama; sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar,sekolah menengah, kejurusan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) dilakukan oleh Depdiknas dan dipandang sebagai tidak berhubungan dengan agama. Pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan justru kurang tergarap secara serius. Agama ditempatkan sekadar salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan seluruh aspek. Pendidikan yang sekular-materialistik ini memang bisa melahirkan orang yang menguasai sains-teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Akan tetapi, pendidikan semacam itu terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan ilmu agama. Banyak lulusan pendidikan umum yang ‘buta agama’ dan rapuh kepribadiannya. Sebaliknya, mereka yang belajar di lingkungan pendidikan agama memang menguasai ilmu agama dan kepribadiannya punbagus, tetapi buta dari segi sains dan teknologi. Sehingga, sektor-sektor moderndiisi orang-orang awam. Sedangkan  yang mengerti agama membuat dunianya sendiri, karena tidak mampu terjun ke sektor modern.

2.      Mahalnya biaya pendidikan
Pendidikan bermutu itu mahal, itulah kalimat yang sering terlontar di kalangan masyarakat. Mereka menganggap begitu mahalnya biaya untuk mengenyampendidikan yang bermutu. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak(TK) sampai Perguruan Tinggi membuat masyarakat miskin memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen BerbasisSekolah), dimana di Indonesia dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, komite sekolah yang merupakan organ MBS selaludisyaratkan adanya unsur pengusaha. Asumsinya, pengusaha memiliki akses atasmodal yang lebih luas. Hasilnya, setelah komite sekolah terbentuk, segala pungutan disodorkan kepada wali murid sesuai keputusan komite sekolah. Namundalam penggunaan dana, tidak transparan. Karena komite sekolah adalah orang-orang dekat kepada sekolah. Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan HukumPendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik kebentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu pemerintah secara mudah dapat melempartanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayananpublik tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35-40 persen dari APBN setiaptahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sector yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah melegitimasi komersalialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinyasekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraanpendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara kaya dan miskin. Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya?. Kewajiban Pemerintahlah untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataan Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk ‘cuci tangan’.

2.4  Penyesuaian Pendidikan di Era Globalisasi

Dalam menghadapi era globalisasi, kita tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia dengan latar belakang pendidikan formal yang baik, tetapi juga diperlukan sumberdaya manusia yang mempunyai latar belakang pendidikan non formal. Dari tulisan di atas, kita bisa menyimpulkan:
1.      bahwa dalam berbagaitakaran dan ukuran dunia pendidikan kita belum siap menghadapi globalisasi. Belum siap tidak berarti bangsa kita akan hanyut begitu saja dalam arus global tersebut. Kita harus menyadari bahwa Indonesia masih dalam masa transisi dan memiliki potensi yang sangat besar untuk memainkan peran dalam globalisasi khususnya pada konteks regional. Inilah salah satu tantangan dunia pendidikan kita yaitu menghasilkan SDM yang kompetitif dan tangguh.
2.      Duniapendidikan kita menghadapi banyak kendala dan tantangan. Namun dari uraian diatas, kita optimis bahwa masih ada peluang.
3.      Alternatif yang ditawarkan di sini adalah penguatan fungsi keluarga dalam pendidikan anak dengan penekanan pada pendidikan informal sebagai bagian daripendidikan formal anak di sekolah. Kesadaran yang tumbuh bahwa keluarga memainkan peranan yang sangat penting dalam pendidikan anak akan membuatkita lebih hati-hati untuk tidak mudah melemparkan kesalahan dunia pendidikan nasional kepada otoritas dan sektor-sektor lain dalam masyarakat, karena mendidik itu ternyata tidak mudah dan harus lintas sektoral. Semakin besar kuantitas individu dan keluarga yang menyadari urgensi peranan keluarga ini, kemudian mereka membentuk jaringan yang lebih luas untuk membangun sinergi, maka semakin cepat tumbuhnya kesadaran kompetitif di tengah-tengah bangsa kita sehingga mampu bersaing di atas gelombang globalisasi ini.
Yang dibutuhkan Indonesia sekarang ini adalah visioning, repositioning strategy dan leadership. Tanpa itu semua, kita tidak akan pernah beranjak daritransformasi yang terus berputar-putar. Dengan visi jelas, tahapan-tahapan yang juga jelas, dan komitmen semua pihak serta kepemimpinan yang kuat untuk mencapai itu, tahun 2020 bukan tidak mungkin Indonesia juga bisa bangkitkembali menjadi bangsa yang lebih bermartabat dan jaya sebagai pemenang dalam glob



BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh perkembangan globalisasi, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Era pasar bebas juga merupakan tantangan bagi duniapendidikan Indonesia, karena terbuka peluang lembaga pendidikan dan tenagapendidik dari mancanegara masuk ke Indonesia. Untuk menghadapi pasar global maka kebijakan pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan,baik akademik maupun non-akademik, dan memperbaiki manajemen pendidikan agar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya bagimasyarakat untuk mendapatkan pendidikan. Paling tidak, ada tiga dampak globalisasi yang akan terjadi dalam dunia pendidikan. Pertama, dunia pendidikan akan menjadi objek komoditas dankomersil seiring dengan kuatnya hembusan paham neoliberalisme yang melanda dunia. Kedua, mulai longgarnya kekuatan kontrol pendidikan oleh negara. Ketiga,globalisasi akan mendorong delokasi dan perubahan teknologi dan orientasipendidikan. Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini adalah sistem pendidikan yang sekular-materialstik. Hal ini dapat terlihat antara lain padaUU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang, dan jenispendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi : Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, kagamaan, dan khusus dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. Cara penyesuaian pendidikan Indonesia di era globalisasi sekarang ini adalah visioning, repositioning strategy, dan leadership. Tanpa itu semua, kita tidak akan pernah beranjak dari transformasi yang terus berputar-putar. Denganvisi jelas, tahapan-tahapan yang juga jelas, dan komitmen semua pihak sertakepemimpinan yang kuat untuk mencapai itu, tahun 2020 bukan tidak mungkinIndonesia juga bisa bangkit kembali menjadi bangsa yang lebih bermartabat danjaya sebagai pemenang dalam globalisasi

3.2  Saran

Penulis menyarankan kepada pemerintah untuk lebih meningkatkan mutu SDM yang berkualitas dan bermoral agar dapat lebih siap untuk menerima dampak positif maupun dampak negatif dari adanya globalisasi. Peningkatan mutu SDM bisa ditingkatkan melalui program pendidikan gratis bagi masyarakat yang kurang mampu. Hendaknya pemerintah juga lebih memperhatikan tentang dampak globalisasi,karena dampak globalisasi tidak hanya merugikan warga negaranya, akan tetapi hal itu juga dapat berimbas pada pemerintah sendiri.


DAFTAR PUSTAKA

Rachman & Zulfikar Zen. Etika kepustakawanan: suatupendekatan terhadap kode etik pustakawan Indonesia. Jakarta: Sagung Seto,2006JANUAR S. Indra. Globalisasi Pendidikan.
http://zag.7p.com/globalisasi_pendidikan.htm akses tanggal 28 Oktober 2009
http://edukasi.kompas.com akses tanggal 3 November 2009OCTAVIANUS, Petrus.
http//www.atarombapunyablog.blogspot.com/demokrasi-pendidikan
Hamdan Mansoer, 2003.demokrasi pendidikan. Jakarta.Depdiknas


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar Saudara sangat berarti untuk Blog ini...